Text
Hubungan Tingkat Keparahan Maloklusi Dengan Kualitas Hidup Mahasiswa/I Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional tahun 2018, prevalensi masalah gigi dan mulut adalah 57,6%. Salah satu kelainan gigi dan mulut yang masih dijumpai pada masyarakat adalah maloklusi. Menurut World Health Organization (WHO) maloklusi adalah cacat atau gangguan fungsional yang dapat menjadi hambatan bagi kesehatan fisik maupun emosional dari pasien yang memerlukan perawatan. Untuk melakukan penilainan terhadap tingkat keparahan dan kebutuhan perawatan maloklusi memerlukan index maloklusi, salah satunya adalah Dental Aesthetic Index. Maloklusi bisa menyebabkan terjadinya masalah periodontal, gangguan fungsi menelan, pengunyahan, masalah bicara dan psikososial yang berkaitan dengan estetika. Kualitas hidup terkait kesehatan gigi dan mulut (OHRQoL), merupakan parameter penting bagi pasien terutama penilaian dihampir setiap bidang fisik dan mental perawatan kesehatan, termasuk ortodonti.Tujuan penelitian: Untuk mengetahui hubungan tingkat keparahan maloklusi dengan kualitas hidup mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muslim Indonesia Bahan dan Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan rancangan cross sectional study. Uji statistik yang digunakan adalah Uji Spearman. Adapun sampel pada penelitian ini 88 sampel yang memenuhi kriteria. Hasil: Berdasarkan hasil uji Spearman didapatkan hasil p-value menunjukkan nilai sebesar 0,004. Hal ini berarti terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat keparahan maloklusi dengan kualitas hidup. Kesimpulan: Frekuensi tertinggi yang mengalami maloklusi berdasarkan jenis kelamin adalah perempuan sebanyak 81,7%, frekuensi tingkat keparahan maloklusi tertinggi adalah maloklusi ringan sebanyak 76,1%, frekuensi kualitas hidup tertinggi berdasarkan OHIP-14 adalah kualitas baik sebanyak 81,8%.Terdapat hubungan signifikan antara maloklusi dengan kualitas hidup.
Tidak tersedia versi lain